Hasan Al Banna; Tak Sudi Menanggalkan Jubah ‘Kegelisahan’.

Hasan Al Banna, nama lengkapnya. Nama yang mengingatkan kita pada  cendekiawan muslim asal Mesir yang banyak dikagumi orang karena kecerdasannya. Keunikannya, dan semangatnya yang besar dalam berdakwah. Hasan Al Banna yang akan kita bicarakan ini, pria tampan kelahiran Padang Sidimpuan, 3 Desember 1978. Namanya memang belum sebesar tokoh Hasan Al Banna asal Mesir itu. Soal prestasi dan sepak terjangnya di dunia sastra dan teater, kerap membuat bibir kita melontarkan decak kagum.

Hasan, mulai senang membaca puisi sejak masih duduk di bangku SD. Dia baru benar-benar jatuh hati pada dunia sastra -terutama dalam menulis- ketika menjadi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed). Tahun 1999, Hasan mulai berkecimpung di Teater LKK Unimed. Saat itulah, sedikit demi sedikit, pria keturunan Minangkabau ini, membangun kerajaan mimpinya di dunia yang aktif digelutinya sekarang.

Menapak tilas proses awal kepenulisan seorang Hasan, berarti mengingat segala ‘ketidakmudahan’. Dulu, Hasan ‘rajin’ berjalan dari kantor surat kabar yang satu ke kantor surat kabar yang lain, menitipkan karya dengan harapan agar dimuat. Satu-dua karya memang dimuat, tetapi lebih banyak yang tidak diketahui nasibnya. Berulang-ulang terjadi demikian. Alih-alih jera, Hasan malah menikmatinya.

“Sungguh, ‘ketidakmudahan’ itu bagi saya, sesuatu yang indah untuk dikenang…” demikian pengakuan putra pasangan almarhum Emsi dan Darlis ini. Ya, Hasan sosok yang tidak meyakini segala sesuatu yang instan, termasuk dalam proses berkarya. Jalanan terjal terus dijajal, hingga akhirnya memberikan buah yang manis. Tentu saja, peran keluarga besar dan keluarga kecilnya, yakni sang istri, Dewi Haritsyah Pohan dan cahaya mata mereka, Embun Segar Firdaus, sangat bermakna. Dukungan penuh dicurahkan pada segenap aktivitas Hasan. Siapa menduga, ternyata sang istrilah yang selalu menjadi penyunting pertama atas karya-karyanya. Boleh dikata sang istri mungkin awam sastra, meski menyenangi sastra.

Pada banyak debat terhadap hasil karya Hasan, kerap muncul hal-hal yang mengejutkan, menggairahkan dan mengesankan. Sastra, ternyata bisa melangitkan kekaguman dan rasa cinta antara Hasan dan istri, bahkan juga mungkin menjadi salah satu faktor perekat hubungan yang paling ampuh dalam mahligai sepasang sejoli yang selalu terlihat serasi ini.
Sebagian orang mengatakan kalau dunia menulis tidak menjanjikan apa-apa. Kenapa Hasan malah ’berani’ terjun total ke dunia ini? Pengagum A. A.  Navis dan Hamsad Rangkuti ini, tersenyum bijak.

”Saya  paham atas pendapat khalayak yang mengatakan, menulis tidak menghadiahkan apa-apa – terutama terkait finansial. Saya pun sangat paham atas kenyataan. Saya mendapat banyak hal dari menulis, termasuk materi. Masalah banyak atau tidak materi yang didapat, tentu  sampai bunuh-bunuhan pun tidak akan selesai dibahas. Prinsip saya, sejauh mana tingkat keyakinan dan ketekunan dalam mengerjakan sesuatu hal, maka sejauh itu pula hasil yang didapat,” demikian urainya.

Kini, karya-karya Hasan berupa cerpen, puisi dan esai, gencar menghiasi berbagai media lokal dan nasional. Beberapa antologi telah dibukukan. Sejumlah penghargaan diraih. Sangat membanggakan, cerpen Hasan yang berjudul “Tiurmaida” masuk dalam antologi 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama: 2008) versi Anugerah Pena Kencana Award. Kabar teranyar, cerpen “Kurik”  buah karya bungsu dari lima bersaudara ini, dimuat di Jurnal Cerpen Indonesia edisi Januari 2009. Sekadar informasi, dari 512 cerpen yang ada, hanya 19 yang terpilih dan  cerpen Hasan itu  salah satunya.

Para sastrawan Sumut menyebut-nyebut Hasan sebagai penulis muda yang produktif melahirkan karya-karya menawan. Banyak pula pembaca yang menyanjung kalau cerpen Hasan memberikan ‘sensasi’ baru kepada mereka dalam menikmati sebuah karya sastra. Kisah-kisahnya mantap, kalimat demi kalimat yang mengalir begitu puitis dan sangat pas padu-padannya. Mengenai hal ini, Hasan berkomentar, ”Untuk menyelesaikan sebuah fiksi, saya harus kaya segala-galanya. Kaya baca, kaya data, kaya fakta, kaya referensi, kaya kreativitas, kaya proses, kaya kesabaran dan kaya imajinasi!” Jangan terkejut, Hasan bisa membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk mengolah 1 judul cerpen! Semua ini dilakukan demi merampungkan sebuah karya yang berkualitas.

Di samping menulis, Hasan juga bergulat  dalam berbagai pementasan teater dan pertunjukan sastra. Beberapa kali dia terlibat dalam  pagelaran yang digelar di Medan, Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Lampung, Jakarta dan Yogyakarta. Di bidang ini, tak sedikit prestasi yang ditorehkan oleh putra daerah yang sehari-harinya bekerja sebagai PNS di Balai Bahasa Medan, Depdiknas. Hasan memenangkan cukup banyak perlombaan baik kiprahnya sebagai pelakon, maupun sutradara.

Pria yang pernah mengikuti Program Penulisan Esai Mejelis Sastrawan Asia Tenggara (MASTERA) di Banyuasin, Sumatera Selatan (2004), Festival Puisi Internasional di Medan (2007), Pentas Penyair se-Sumatra di Batam (2007) dan Temu Sastrawan Indonesia 1 di Jambi (2008) menegaskan, “Bagi saya, karya yang ditekuni dengan kesungguhan, kejujuran, kerja keras, diiringi tabur doa, dengan sendirinya akan menjemput pujian.”

Disela-sela kesibukannya, Hasan masih dengan senang hati memenuhi undangan menjadi pembicara, instruktur pelatihan menulis dan dewan juri sayembara menulis dan baca sastra. Beberapa waktu lalu, dia mendapatkan kehormatan membacakan sajak-sajaknya yang bertema HAM di Konsulat AS di Medan. Gurat semangat untuk berkarya akan terus hidup dalam pribadi seorang Hasan Al Banna.

“Saya bakal tidak sudi menanggalkan jubah ‘kegelisahan’ dari tubuh saya, meski kian hari kian lusuh, kian kumuh. Tentu ‘kegelisahan’ tentang apa saja. ‘Kegelisahan’ yang datang dari mesin kepekaan saya sebagai manusia. Semakin lusuh dan kumuh jubah ‘kegelisahan’ saya, semakin terpacu saya untuk berkarya…!” demikian tutup pria yang baru-baru ini diutus oleh Teater Generasi  (Jaringan Teater Sumatera) untuk mengikuti pelatihan  sutradara di Lampung (bersama tentor Putu Wijaya), sambil tersenyum.

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4876:hasan-al-banna-tak-sudi-menanggalkan-jubah-kegelisahan&catid=115:tokoh&Itemid=122

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    wandi said,

    hasan albana dimana beliau skrg ..jika ada info silahkan kbri ke alamat gmail saya ya ……dah lama gk ada kontak nich kangen juga

  2. 2

    Anonim said,

    ya , apakah ada fb nya?atau twitter, terimakasih

  3. 3

    Anonim said,

    Berkarya tidak kenal usia, kreatifas tonggak utama,


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: