Monolog ”Perempuan” TAN Medan


Ketika Buku-buku Menjadi Sumber Malapetaka

MEDAN – Inilah penggalan dialog dari sebuah pagelaran monolog yang dipentaskan Teater Anak Negeri (TAN) Medan berjudul “Perempuan” di Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Minggu (1/6) malam. Penggalan dialog ini menjadi pembuka acara.
Karena marahmu kemudian kau begitu dendam pada buku. Karena marahmu kemudian kau ingin tampil melebihi kakak dan abangmu. Karena marahmu kau jadi salah kaprah. Kau membaca lebih dari yang kusodorkan.

Buku-buku itu tiba-tiba menjelma menjadi minuman pahit bagiku. Kau anggap julukan residivis sama agungnya dengan aktivis kemanusiaan. Hanya karena kau putus asa. Dapatkah kubenarkan?
Memang butuh waktu cukup lama untuk dapat mengubah tatanan berpikir seluruh penghuni tanah ini yang sudah terlanjur dibentuk selama ratusan tahun oleh sebuah sistem kolonial. Lalu mengajak semua orang secara serentak untuk melakukan kontrol sosial.
Ini kerja panjang dan tidak gampang, Juang! Dan tidak cukup banyak para ibu yang mampu menanamkan kesadaran semacam itu kepada anak-anaknya!”
Naskah yang ditulis oleh pemainnya, Aishah Bashar, itu merupakan pembuka dari enam pagelaran monolog lainnya yang akan digelar setiap pekan sebagai rangkaian Estafet Monolog Teater Anak Negeri (TAN) Medan.
Perempuan tetap saja perempuan. Ia mungkin seorang pejuang. Namun, tatkala menerima akibat sebuah perjuangan—sang suami mati menjadi korban perlawanan atas sebuah rezim, anaknya meminta suaka ke negeri lain—perempuan menjadi romantis. Perempuan kemudian memiliki rindu, cemas, bahkan keraguan atas perjuangannya itu sendiri.
TAN Medan mengeksploitasi pergolakan psikologis seorang perempuan (baca: ibu) dari sebuah keluarga pejuang yang melawan sebuah penindasan. Kekayaan dalam bentuk harta-benda bukanlah materi pencapaian. Bahkan tiga anak dari sang ”Perempuan”, yakni Juang, Lintang dan Suri dianggap sebagai anak-anak yang meneruskan perlawanan keluarga terhadap rezim penindas. Rezim yang telah menghancurkan tatanan sosial dan harapan masyarakat banyak.
Dan, semua itu berawal dari buku-buku yang ditinggalkan sang ayah, Karman. Hingga akhirnya sang ”Perempuan” begitu membenci buku-buku peninggalan tersebut karena sang suami telah mengakibatkan tiga anaknya tak bisa ”dimiliki”-nya.
”Kadang-kadang perempuan tua ini terusik juga oleh sisi rentan batinnya. Sebagai ibu, sebagai manusia biasa, tak jarang aku merindukan ketiga anak biologisku itu. Mencemaskan keadaan mereka. Suri, Bintang dan Juang. Tiga pribadi dan pilihan yang berbeda,” kata sang ”Perempuan”.
”Aku takut, Karman. Aku takut anak-anakmu terbunuh seperti dirimu. Akan sendirilah aku meratapi ketuaanku. Aku ingin kau temani. Bersama mengiringi langkah anak-anak kita. Bersama menyongsong hari tua kita. Aku tak mau mati dalam kesepian,” lanjut sang ”Perempuan”.
Namun, akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dilakukan anak-anak dan suaminya adalah sebuah pilihan, seperti ketika ia bersedia dinikahi Karman. Dan, ia menyadari bahwa setiap pilihan pasti bersandingkan risiko.
”Idealisme dan romantisme adalah dua hal yang kami eksploitasi dalam sosok ‘perempuan’ di pagelaran ini. Saya melihat, kedua hal ini adalah bagian dari kodrat wanita di luar kehamilan dan haid. Di mana ia juga harus berjuang melakukan perlawanan atas pergulatan psikologis yang dihadapinya tersebut,” kata sutradara TAN Medan, Idris Pasaribu dalam diskusi usai pagelaran.
Pemilihan naskah yang bertutur tentang perempuan ini menarik perhatian sebagian besar para penonton. Sebab, Medan amat miskin pagelaran teater dengan naskah-naskah yang menyinggung persoalan realitas publik.
”Saya sempat terharu dan meneteskan air mata saat menontonnya,” ujar Dini Usman, penggiat demokrasi di Medan, yang duduk di antara penonton.
Sayangnya, pagelaran monolog ”Perempuan” yang digelar TAN Medan tersebut hanya ditonton tak lebih 70 orang. Selain panitia yang hanya menyediakan tempat duduk sebanyak 100 orang, namun diakui bahwa banyak para pembeli tiket pertunjukan seharga Rp 10 ribu per lembarnya itu tak hadir.

Minim
Estafet monolog seperti ini baru pertama sekali diadakan di Medan. Hal ini bermula dari ide yang dilemparkan Aishah Bashar dalam pertemuan-pertemuan yang kerap digelar TAN Medan.
”Awalnya, sangat jarang sekali aku melihat pagelaran teater monolog di Medan. Mungkin selama aku berteater bisa dihitung pakai jarilah,” kata Aishah, perempuan kelahiran tahun 1971 tersebut kepada SH.
Ide itu pun bergulir setelah catatan TAN Medan hanya menginventarisasi empat pertunjukan teater monolog yang digelar sepanjang tahun 1975 hingga 2003 ini.
”Jadi memang sangat sedikit sekali seniman teater yang mau menggelar monolog. Tak jelas apa alasannya. Bisa jadi karena sulit atau juga memang tak menarik,” kata Idris menyambangi.
Selain minimnya jumlah pertunjukan monolog di Medan, estafet monolog ini juga dikelola dengan dana yang minim. Hanya dengan modal Rp 1 juta, mereka menggelar enam pertunjukan.
”Jadi semua ini betul-betul kerja sosial. Dan kami sangat bersyukur karena ide TAN Medan untuk menggelar estafet monolog ini juga disambut beberapa kelompok teater lainnya tanpa bayaran sedikit pun,” tukas Idris.
Jadi, semua fasilitas pagelaran diusahakan gratis. Meski diakuinya ada beberapa hal yang tak bisa digratiskan. Misalnya saja seperti konsumsi, transportasi dan lainnya. Namun gedung, lampu, musik dan cetak undangan lebih merupakan bantuan rekan-rekan seniman sendiri.
”Meski begitu, show must go on. Kita berusaha bangkit di tengah iklim teater Sumut yang dalam kondisi hidup segan mati tak mau ini,” jelas Idris lagi.
Rencananya, setelah TAN Medan, lima teater lain akan menggelar naskah monolog, yaitu Teater LKK Universitas Medan (Unimed), Teater Al Ibhem Medan, Sanggar Teater Generasi Medan, Teater Kita Medan dan Teater Dimensi.
(SH/darma lubis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: